visit on my page

Showing posts with label Ngeteng. Show all posts
Showing posts with label Ngeteng. Show all posts

Sunday, May 12, 2019

Apalah Arti Sebuah Eartips, ft Spinfit CP100 - Monoprice - Philips SHE9000


Satu hal yang kurang diperhatikan oleh orang awam tentang kualitas suara iem (in ear monitor) adalah Eartips. Banyak orang berfikir yang penting ada eartips nya, eartips bawaan pun sudah bagus. Namun percaya saya, Eartips after market akan memberikan anda pengalaman yang jauh lebih mengesankan. Saya awalnya jug skeptis, namun setelah mencoba sendiri akhirnya manggut-manggut tanda setuju. Yang paling saya rasakan adalah saat saya meminang KZ series, KZ ZSN lebih tepatnya. Eartips bawaan nya gak ada masalah sebenarnya, namun masalah itu akan terasa saat anda menggantinya dengan eartips after market. Ada beberapa yang pasti anda dapatkan lebih dari eartips bawaan KZ ini. Fitting lebih nyaman di kuping, jadi tidak mudah capek atau sakit ataupun terasa gatal saat dipakai. Kedua yang anda dapatkan adalah suara yang lebih refine. Setiap frekuensi akan terkontrol dengan baik. Bas, vocal, dan trebel akan lebih enak masuk dan menyapa gendang telinga. Ketiga pastinya tampilan akan menjadi makin kece. Eit, tapi eartips after market nya harus yang kualitas baik ya... seperti yang akan saya bahas ini, yakni Spinfit CP100.


SPINFIT CP100
Awalnya saya memang akan mencari eartips yang cocok untuk takstar Hi1200 saya. Saya rasa mid high nya kurang extendx sedang kan kuantitas bass nya sedikit berlebih. Setelah mengobrak-abrik forum audio kere hore saya memutuskan untuk membeli eartips yang sedang hype yakni SPinfit CP100. Pesan melalui online dengan harga 70k dan tak lama barang sudah di tangan. Apa? Yup, memang gak salah saya bilang. Barang seiprit itu harganya puluhan ribu, dan hanya 1 pasang saja. Jangan salah, masih banyak merek lain dengan harga ratusan ribu hanya untuk karet sumpal telinga. Daripada penasaran, mari kita lihat isinya.



Packing nya hanya begitu saja. Kertas tebal dengan plastik membulat sebagai pembungkus eartips nya. Karena lubang telinga saya kecil maka saya memilih size S. gak ada impresi yang menarik sama sekali untuk packingnya. Lalu bagaimana dengan eartips nya sendiri? Secara kasat mata sih gak ada bedanya dengan eartips curah ya. Namun setelah dipegang-pegang, dielus-elus, diplintir-plintir baru kerasa enaknya. Eartips ini sangat lembut, kesat, tapi halus. Sangat mudah masuk liang telinga namun tidak mudah lepas. Fittingnya sangat nyaman ringan dan jelas tidak membuat kuping sakit, capek ataupun gatal. Uniknya di ujung lubang bore nya ada semacam konstruksi membulat yang membuat karetnya sangat fleksibel bahkan diklaim bisa berputas 360 derajad. Ini lah yang membedakan eartips spinfit dari merek lain. Lubang bore eartips dapat berputar dan fleksibel mengikuti bentuk lubang telinga kita, sehingga engle nya sesuai dan suara masuk ke gendang telinga dengan sempurna. 



Lalu bagaimana karakter suaranya jika dibanding eartips bawaan Takstar Hi1200? Saya merasa bass nya tidak naik ataupun turun namun lebih terkontrol. Vocal nya sedikit lebih present. Sedangkan trebel nya bertambah extend sedikit dan tentunya tidak sekasar sebelumnya. Bagi saya sih, belum terlalu menjawab apa yang saya cari, yakni menaikkan mid dan high hi1200. Meski ada naik namun kurang kerasa menurut saya. Yang paling saya notice yakni semua frekuensi lebih refine dan nyaman di kuping. Lebih lembut dan tidak sekasar eartips bawaan. Namun begitu overall saya cukup puas dengan hasilnya. Fittingnya jelas lebih nyaman.



Spinfit dengan harga 70 ribu apakah sesuperior itu? Kelemahannya apa? Saya temukan sati kelemahan dan ini sangat fatal bagi saya, yanki DURABILITY. Saya pakai Spinfit CP100 ini sekitar 2 minggu. Cukup intens memang, namun entah saking lembut bahannya, atau cara pakai saya yang super jorok atau bagaimana. Eartips Spinfit CP100 yang saya bangga-banggakan sobek. Bukan di salah satu saja namun satunya pun sudah retak dan terindikasi akan robel juga. Seumur-umur baru kali ini saya merobek sepasang eartips. Kisah pilu ini bermula saat spinfit cp100 saya pasang di KZ ZSN PRO yang baru saya beli. Sekitar 3 hari saya pakai dengan cukup intens di ZSN PRO, tiba2 saya merasa sealnya kok gak dapat. Ternyata Spinfit cp100 saya pun robek. Apakah nozzle ZSN PRO yang gak friendly dengan eartips? Meski begitu seharusnya tidak semudah itu robeknya. Saya fikir memang bahan SPinfit yang teramat lembut ditambah nozzle ZSN PRO yang galak memicu kisah yang cukup memilukan tersebut. dan, FYI eartips seharga earphone jimbon itu tidak ada garansi sama sekali. Yah, nasib saya ini berarti. Saya juga belum pernah menemukan spinfit cp100 yang rusak seperti ini sebelumnya.


MONOPRICE
Eartips ini tidak lah sekece spinfit. Warnanya yang hitam sangat terlihat mainstream. Harganya juga tak semahal spinfit. Meski begitu, tidak lah bisa kita bilang murah. Satu pasang monoprice eartips biasa dibanderol dibawah 50k. mount nya sedikit leih panjang dibanding spinfit, jadi kerasa lebih “nancap” di kuping. Borenya pun sedikit lebih besar dibanding spinfit, membuat suara nya lebih lepas. Karakter nya dibanding spinfit, monoprice lebih open dengan kuantitas bass lebih banyak dan high yang sedikit lebih lembut. Untuk mid nya tidak terlalu banyak perbedaan, hanya di monoprice kerasa sedikit lebih berbody. Jika spinfit bass nya mengarah ke tight, maka monoprice terasa pas dengan speed yang sedang.


Dengan harga yang cukup “berasa”, lalu apa istimewanya?
Eartips ini sangaaat lembut, bahkan lebih lembut dibanding spinfit yang terkenal sudah cukup lembut. Karena saking lembutnya, saya menemukan sedikit sobek selama pemakaian 2 sampai 3 minggu. Bongkar pasang nya memang harus hati-hati agar eartips ini awet. Karena lembut dan mount nya cukup panjang, saya lebih nyaman memakai ini ketimbang spinfit meski ujungnya tidak bisa berputar kayak spinfit. Tapi, kalo urusan teknikalitas suara yang dihasilkan, saya masih menyukai spinfit. Lain dari pada itu, spinfit menang di estetika.


Untuk kalian yang sedang berkelana mencari eartips nyaman di harga under 50k, monoprice menjadi rekomendasi saya. Saya tidak ada komplain selain “kerasa ringkih” nya sehingga harus lebih berhati-hati saat bongkar pasang.



Philips SHE9000
Selain Spinfit CP100 saya juga punya eartips aftermarket yang harganya hanya 8 ribu perak. Namanya Eartip Philips SHE9000. Saya beli iseng saat promo shopee gratis ongkir tanpa pembelian minimal. Gak punya espektasi sama sekali saat menerima eartips itu. Setidaknya buat koleksi lah kalau memang tidak bagus. 1 pasang tanpa packing retail dan langsung saya colok ke Takstar hi1200. Hasilnya? Surprisingly impresi suaranya mendekati Spinfit CP100. Karakternya nyaris sama, hanya saja di Spinfit kesannya lebih lembut dan nyaman suaranya. Dibanding eartips bawaan Hi1200, jelas saya masih pilih eartips murah ini. Fittingnya bagaimana? Janganlah kalo dibanding Spinfit, dibanding yang bawaan saja kayaknya masih nyaman yang bawaan. Eartips Philips ini masih masuk kategori nyaman dan mudah dipakai. Namun tidak bisa diajak main berjam-jam. Indikasi pegal akan cepat terasa ketimbang pakai spinfit atau bahkan eartips bawaan hi1200. Namun saya pakai sekitar 2 jam masih enak kok, selebihnya harus saya copot dari lubang telinga.


Lalu bagaimana? Worth untuk dibeli? Untuk spinfit melihat dari pengalaman pahit saya maka saya kurang merekomendasikan karena faktor durability. Selain itu gak ada keluhan sama sekali. Untuk Philips SHE9000, jelas ini wajib anda miliki. Dengan harga yang super ekonomis, anda mendapat kualitas yang jauh diatas harganya. 

Bagaimana? Mau mengganti eartips bawaan earphone anda? Percaya sama kuping anda.
Salam audio, semoga berguna..

Regards,

waw



















Wednesday, December 19, 2018

Guci Tegal, alternatif terbaik long weekend


Weekend? Mari kita plesiran. Sudah menjadi ritual keluarga kecil kami tiap weekend untuk refreshing. Mau kemana saja tujuannya bahkan hanya sekedar taman dekat rumah maka jadilah. Tapi kali ini cukup special, kami piknik ke Tegal tepatnya di Guci. Alasannya? Banyak. Okelah saya sebutkan satu satu. Yang pertama jelas karena kami belum pernah ke sana. alasan lain karena memang sudah jarang piknik ke tempat yang agak jauh. Alasan selanjutnya, karena kami kangen naik kereta. Cukup ya alasannya. Sekarang saat nya kita berangkat.



Diawali dari stasiun poncol langkah pertama kami menuju Guci Tegal dimulai. Pesan tiket Kereta Kaligung via online sebelumnya dan berangkat pada hari yang telah ditentukan. Check in, masuk peron dan langsung masuk ke gerbong sesuai tiket. Karena kereta ekonomi, maka ya tempat duduknya alakadarnya. Anak2 justru lebih suka beredar ke sana kemari, dan akhirnya kami tersesat di restorasi. Bangku kosong yang nyaman membuat kami lama nongkrong disana hingga kami sampai di stasiun Slawi. Menurut pemandu wisata kami (baca mbah google) kami harus turun di stasiun slawi untuk melanjutkan perjalanan ke Guci.


Keluar stasiun, jalan beberpa ratus meter hingga sampai pertigaan macam taman gitu, kami nongkrong disana untuk menunggu angkot yang akan mengantar kami ke Guci nantinya. Tidak terlalu lama angkot pun datang. Mari kita melanjutkan perjalanan. Angkot nya standar biasa saja, tidak seperti angkot di tempat agan agan yang interiornya penuh modif dengan audio kelap kelip jeddag jedug jegler itu. Angkot pun membawa kami keluar dari jalan raya dan menjauh ke daerah pinggir (baca menjauhi kota). Cukup lama mungkin hampir 1 jam perjalanan hingga anak wedok pun terkulai lemas dengan mata terpejam di pangkuan ibunya. Sopir pun berujar “Guci turun disini”. Dan yess, akhirnya sampai juga.


Namun ternyata enggak sodara sodara. Kita wajib menumpang satu armada lagi untuk sampai ke Guci. Kami diturunkan di sekitar pertigaan besar dan disanalah kami nongkrong lagi untuk mendapat tumpangan. Baik, mari kita tunggu sambal jajan makanan yang Tegal Banget. Khamir kayaknya namanya. Nah itu angkot nya datang. Wow, cukup emejing saat kami notice bahwa angkotnya itu adalah bak terbuka. Dan, memang seperti itu lah angkot dari sana menuju ke Guci, paling-paling ada dikasih tempat duduk alakadar nya atau bahkan benar-benar kosong gak ada tempat duduk. Baiklah, mari kita tamasya anak-anak. Thanks god, they are cute kidos. 


Setelah menempuh perjalanan sekitar hampir 1 jam dengan sejuknya angin alami yang benar-benar dingin, dan pemandangan nya yang adem di mata (sungguh tidak menyesal sama sekali naik armada ini) sampailah pada saat yang bahagia. Tibalah kita di Guci. Sebenarnya cukup banyak spot wisata di sini yang cukup asyik, namun karena memang bukan focus utama kami, maka cukup lah kami masuk ke pamandian umum air hangat yang geratis. Fyi, spot-spot wisata disini ternya bukan pemda yang mengurusi. Pihak swasta banyak yang sudah mengelola beberapa spot. Makanya tiap spot kita diwajibkan membayar tiket untuk memasukinya.


Tempat pemandian air hangat GERATIS ini cukup luas. Tapi sangat ramai pastinya. Namun justru ini pasti sangat menyenangkan. Buktinya anak-anak kelihatan ceria dan sangat menikmati setiap riak air yang mereka mainkan meski lelah setelah menempuh perjalanan yang menguras banyak energi. Thanks god again for this kidos. Setelah beberapa lama, hujan turun memaksa kami untuk naik dari air meski belum terlalu puas bermain di sana. setelah berganti pakaian kami pun menuji warung kecil di sekitar sana untuk sekedar mengisi perut kosong dengan pop mie dan beberapa buah gorengan. Suasana yang dingin sangat kita nikmati dengan kedua menu tersebut. Hujan mereda, kami pun memutuskan untuk pulang. Gak mau masuk ke spot lain? Tidak terimakasih selain bukan tujuan utama kami, Susana semakin dingin dan kami juga mengejar kereta untuk pulang.


Berjalan menaiki tanjakan yang cukup membuat ngos ngosan, sampailah kami di terminal Guci. Nongkrong disana beberapa saat tapi gak ada angkot yang kami tunggu. Ngobrol lah kami dengan petugas dan kebetulan hujan turun lagi. Kami disaran kan agar agak keluar dari terminal untuk mendapat armada yang mengantar kami pulang. Yes, kami sepertinya harus gerilya untuk mendapatkan tumpangan. Syukur lah kami mendapat tumpangan mobil bak terbuka “lagi” namun kali ini prifat. Ya, kami bernegosisai dengan sopir untuk ikut pulang dengan menawarkan bayaran tertentu. Kebetulan atau memang demikian, mobil tersebut adalah mobil yang akan kembali dari membawa barang dagangan yang seblumnya di bawa ke Guci.


Asyiknya sama namun kali ini hanya kami ber 4 di sebuah mobil bak terbuka dan ditambah udara yang lebih dingin dari saat berangkat plus rintik hujan. Semoga anak-anak tidak tepar. Sampai di pertigaan yang tadi saat berangkat, kami diturunkan. Dan pas sekali, saat kami turun ada angkot yang akan menuju ke kota. Rundown berjalan dengan sempurna. Meski lumayan capek, tapi asyik nya sungguh luarbiasa. Alhamdulillah… semoga berguna

Regards,
waw

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

whats in your mind?