visit on my page

Thursday, October 11, 2018

Holycow! Steak premium bercita rasa natural

Steak? Makanan yang cukup berkelas (dulu), sekarang seakan sudah memasyarakat. Lahirnya steak budget di banyak warung makan membuat siapa saja akan bisa menikmati makanan londo tersebut. Setiap daerah seakan sudah cukup awam dengan makanan ini saat ini. Makanan yang dulu hanya bisa dikonsumsi kaum piyayi pun kini sudah bisa kita dicicipi .


Steak adalah salah satu makanan favorit saya. Berawal dari waroeng steak lidah saya diajari mencicipi makanan londo (katanya). Sebenarnya pada dasarnya saya tidak terbiasa makan lauk saja. Sedangkan steak adalah makanan yang terdiri dari dominan daging dengan sedikit sayuran yang menemaninya. Dan menurut saya itu adalah makanan yang terdiri dari lauk saja. Makan ya nasi, lauk dan sayur. Lha ini nasi nya mana? Makan lauk saja memang memberi sensasi sendiri pada lidah. Lebih tepatnya sangat memanjakan lidah. Dan oleh karena itu, saya makan steak jarang-jarang saja.




Salah satu rumah makan yang menjajakan steak sebagai menu utama adalah Holycow. Terletak di dekat akpol semarang café ini berdiri. Tepatnya disamping kantor BPJS kesehatan semarang. Papan café yang serba merah cukup mencolok jika dilihat dari jalan raya. Jika anda masuk, kesan classy sudah tersaji dari sejak anda memarkirkan kendaraan. Bangunan café yang premium dan interior yang berkelas langsung saya rasakan. Holycow memang terkenal dengan “kelas”nya di dunia per steak an. Harga nya pun cukup menguras kantong pelajar. Namun, apa yang anda rasakan akan sesuai dengan apa yang anda bayarkan.


Selain kesan mewah di bangunan dan interiornya, penyajian makanan pun sangat istimewa. Presentasi makanan yang disaajikan di meja penunjung sangat berkesan. Sampai hamoir gak tega saya melahapnya. Menunya cukup lengkap (dalam arti bukan hanya steak dan minuman saja), namun saya hanya memesan steak 2 porsi dengan istri saya, dengan 2 minuman tentunya. Impresinya adalah NATURAL. Rasa daging nya bener2 rasa daging. Maksutnya adalah tanpa bumbu yang neko-neko, sang chef menyajikan steak dengan menonjolkan rasa daging sapi nya. Teksturnya pun empuk, mudah dikoyak dan mudah dikunyah. Penyajian nya menggunakan piring kaca berwarna putih. Saus steak yang disajikan ke kami pun berbeda (sesuai dengan yang kami minta). Saus cabe untuk saya dan saus mayonise untuk istri. Dengan minim nya bumbu pada daging dan simple nya saus pendamping sukses membuat steak di Holycow saya nobatkan sebagai spesialis steak dengan rasa NATURAL. Koak rancu? Apa gak enak sih? Enak bro sis. Tapi bagi anda penganut bumbu sentris mungkin akan sedikit kecewa. Tapi kalo anda penyuka rasa natural, saya jamin anda pasti akan balik lagi ke sini.



Beruntung saat itu saya bisa mempir ke sana karena ada even beli 1 gratis 1 untuk yang berulang tahun. Tinggal tunjukkan KTP anda, pakai topi ulang tahun untuk berfoto, anda sudah bisa menikmati steak berkelas untuk 2 orang. Kalau gak ada promo ini mungkin saya sedikit berfikir lagi untuk mampir ke sini.. lumayan untuk ukuran kantong saya cuy.. hehe

Anda penyuka steak wajib mencoba ke sini. Jangan ngaku penggemar steak kalau belum pernah ke Holycow.. semiga berguna

Regards,

waw





Wednesday, October 10, 2018

Berlibur di hotel? Kenapa tidak - hotel staycation

Bingung dan bosen dengan vacation yang itu itu saja? Anda semua perlu mencoba vacation ala kita. Staycation at hotel. Gayaaa… enggak men. Ini sungguhan. Masak saya yang penganut kere hore akut gini ma uke hotel hanya untuk gaya-gayaan. Tujuan sesungguhnya adalah liburan, refreshing, dan menggembirakan keluarga. Kenapa di hotel? 

Alasan pertama adalah budget. Nah, kok budget? Hotel kan mahal. Tidak semua hotel mahal kawan, banyak promo betebaran pula di aplikasi pemesanan hotel. Dengan budget dibawah 300 ribu, kita sudah bisa nginep di hotel budget (hotel simple). Apalagi kalo sedang hoki, hotel bintang pun bisa ditebus dengan harga hotel budget. Tidak setiap saat, jarang malah saya liburan di hotel. Hanya saat dapat promo saja. Hehe… 

Bayangkan, apa yang kita dapat dengan uang 300 ribu untuk liburan. Transport, makan, tiket, belum oleh oleh, mana cukup. Bandingkan dengan vacation di hotel. Mau tidur gegoleran? Kasur empuk nan nyaman sudah tersedia. Mau nonton TV? Ada layer lebar. Mau makan enak tanpa masak? Banyak, tinggal ambil sendiri saat breakfast di cafenya, dan tidak perlu bayar lebih. Mau apa lagi? Jalan-jalan? Muter muter aja di area hotel atau di daerah dekat hotel sudah cukup. Kalo anda bisa memilih, anda bisa mendapat hotel dengan fasilitas pool. Anda dengan keluarga bisa renang renag senag deh. Dengan liburan di hotel pun bisa mensiasati kebosanan liburan yang hanya itu itu saja. Oke hanya segitu alasannya. Hanya? Kok banyak.. ya biar banyak yang ngikut. hehe

Percaya deh, dengan vacation di hotel akan membuat heppy keluarga. Kantong pun tidak terkuras karena budget nya ternyata ekonomis. Dan tentu nya pride pun akan naik dengan sendirinya. Tapi satu syaratnya, yakni saat ada promo. Mau di kota kelahiran boleh, luar kota juga gak jadi masalah kok asal tidak terlalu jauh saja dengan tempat tinggal. Jadi, bagaimana? Tertarik dengan salah satu metode vacation saya? Monggo silahkan dicoba. Semoga bermanfaaf…

Regards,

waw

Bianglala citraland kedungmundu - fun for hangout keluarga di semarang

Saya mau share satu tempat hangout kere hore di semarang. Kere hore dalam arti bukan untuk kaum miskin ya, tapi dengan menganut prinsip ekonomi dengan mengeluarkan kocek yang seminim minim nya atau bahkan tidak perlu rogoh kocek untuk mendapatkan kesenangan yang semaksimal maksimalnya. Itu… lets begin


Letaknya di daerah kedung mundu, tepatnya di komplek perumahan citra land. Sebelum masuk ke komplek anda akan disambut oleh bangunan yang eksentrik dan aneh yang sering dalam benak anda namun jarang anda temui. Hooh, bianglala. Hal tersebut pasti sering di benak anak anak atau bahkan anda setidaknya saat masa kanak2. Saya pun begitu. Seperti mimpi, dan saat ini seolah menjadi kenyataan. Bianglala sebesar embuh ada di depan mata. 


Di waktu siang memang tidak terlalu ketara, namun saat malam sungguh menakjubkan. Tidak berlebihan, lampunya yang kelap kelip warna warni semakin membuat bianglala itu semakin indah. Buat selfie? Dijamin banyak like. Bukan hanya buat dipandang dan foto-foto doang? Dipegang juga boleh. Jangankan hanya dipegang, dinaiki pun juga dipersilahkan. Hanya siapkan uang 15 ribu saja anda bisa naik bianglala super besar ini 2 kali putaran. Untuk balita geratis. Gimana? Kere hore gak? Namun bagi anda yang takut ketinggian, jangan coba deh. Ini tinggi sekali kalo anda sudah berputar sampai puncak. Cukup bayangkan saja. Hehe


Selain bianglala yang memang menjadi main interest, ada juga disini tanah lapang dengan rumput jepang di sebelah bianglala. Anda bisa duduk duduk, lari larian, klesotan, tiduran, jungkir balik, atau bahkan koprol disana. Serius saya pernah melakukan semuanya itu disana. Buat sepedaan anak anak pun juga asik lho. Tapi hati hati, banyak kendaraan berseliweran disana, karena memang ini adalah akses masuk ke perumahan. Ada lagi sebuah café disana yang cukup kekinian. Biasa juga ada band kecil kecilan yang main music. Cukup menyenangkan lah.


Spot ini memang sepertinya dirancang sedemikian rupa oleh pihak pengembang untuk entertain spot di perumahan yang mereka buat. Seperti kebanyakan komplek perumahan citra land sepertinya ada tema tema tersendiri di setiap komplek nya. Coba deh anda perhatikan. Oke, semoga berguna. Jangan lupa mampir.

Regards,

waw

Tuesday, October 9, 2018

Kebun binatang Semarang (Taman Margasatwa)


Mengajak anak anak hangout adalah hal yang menyenangkan. Membahagiakan bapak, ibu, dan pastinya anak anak. Jadi satu paket bisa heppy semua. Gak perlu mahal mahal, yang membutuhkan dana minim justru lebih asyik. Apalagi kalua tema nya alam alam gitu, hmmhhh anak anak paling syuka. Dan, kali ini saya membawa anak anak ke bonbin. Iyah, kebun binatang itu Bahasa anak2 jaman dulu, atau sekarang masih? Gak jauh kok, masih di semarang juga. Namanya Taman Marga Satwa Semarang.


Bonbin ini memang punya propinsi jawa tengah, tepatnya di mangkang. Jl. Walisongo km 16. Kalo dari terminal mangkang tinggal nyeberang dan jalan sekitar 100an meter kea rah barat. Nah kelihatan deh gapuranya. Saya sengaja berangkat dengan naik bis. Bis trans semarang, sekalian nyoba, kan jarang naik bus andalan kota semarang itu. Sesampainya di TKP, ternyata lumayan rame juga, memang saat itu bertepatan dengan weekend. Bahkan banyak sekali rombongan pengunjung dari luar kota. Masuk area langsung disambut dengan mini musium yang menarik. Masuk kawasan, dan mari kita nikmati.


Meski tidak terlalu spektakuler alias bonbin kemasan konvensional, namun cukup menyenangkan. Banyak sekali taman dengan spot permainan anak gratis seperti ayunan, jungkat jungkit dan lain lain favorit anak anak. Hewan koleksi nya pun cukup beragam. Selain itu banyak wahana wahana yang patut untuk dicoba. Mau naik kuda atau gajah? Bisa. Naik ATV? Ada. Kereta mini pun dapat anda nikmati. Mau outbond atau main flying fox pun tersedia. Cukup lengkap kan? Masih ada lagi lho selain itu.


Di sana ternyata bisa mainan air. Pasalnya ada danau mini buatan yang bisa untuk naik becak bebek atau nauk perahu. Mau romantic sama pasangan ya naik bebek. Mau heppy sama keluarga ya naik perahu. Asyik nya lagi, kalo lagi beruntung anda akan ditemani burung pelican saat menikmati keduanya. Ada pula musium pesawat,  area ketangkasan, dan gedung sinema wisata. Kebetulan saya tidak mencicipi nya jadi tidak bisa kasih impresi. Dan yang bikin spektakuler lagi ternyata ada waterboom disana. Dilengkapi kolam koceh, kolam pasir, dan kolam batu kesahatan membuat nya semakin menarik untuk dijajal. Namun  sayangnya lagi saya pun tidak sempat mencobanya. Selain karena waktu tidak mencukupi, wisata kere hore juga menjadi alasan utama, hehe. Mau main air di waterboom, lain kali saja di paket wisata yang berbeda, piker saya waktu itu.

Over all tempat wisata ini cukup rekomended untuk disambangi. Selain tidak butuh kocek banyak, bisa membuat semua heppy itu intinya. Dari kota semarang saya menyajikan. Semoga bermanfaat.

Regards,

waw

















Saturday, October 6, 2018

Perjalanan Palu - Donggala - Ongulara - central of sulawesi

Baik, mari kita berangkat ke Ongulara. Saya dari semarang tentu harus menggunakan pesawat dibanding menggunakan kapal laut. Tujuan utama kita adalah Kota Palu. Kalau dari semarang ada beberapa opsi. Kita bisa berangkat dari bandara ahmad yani semarang, transit di Jakarta lalu ke Palu. Atau berangkat dari semarang, transit di Surabaya, kemudian Balikpapan atau Makasar lalu ke Palu. Atau Berangkat dari Surabaya/Solo/Jogja kemudian transit ke Balikpapan atau Makasar lalu ke Palu. Sejauh ini sih yang paling ekonomis adalah berangkat dari Surabaya. Namun yang paling praktis adalah berangkat dari semarang. Tergantung budget lah ya.

Sesampai di bandara Mutiara Sis Al jufri Kota Palu, perjalanan pun dilanjut ke Kabupatren Donggala. Sepertinya ada sih kendaraan umum dari Palu sampai ke Watatu, karena Watatu sendiri (pusat kecamatan Banawa Selatan) adalah merupakan jalur trans yang ramai kearah Mamuju. Namun, karena satu dan lain hal, kami memilih menyewa mobil untuk mencapai Ongulara. Dua orang dari kami sengaja menggunakan motor karena memang dipersiapkan untuk mobilitas nanti di lapangan. Dan, saya adalah salah satu personil penunggang motornya.


Perjalanan ke Donggala membutuhkan waktu 1 hingga 2 jam perjalanan dengan suasana perjalanan yang biasa saja tanpa ada hal yang berarti. Dari Donggala perjalanan dilanjutkan ke kecamatan Banawa Selatan yang berpusat di Watatu. Perjalanan membutuhkan waktu hampir 2 jam. Perjalalan yang ini cukup menarik karena banyak pemandangan lautan dari jalan yang kita lalui. Jalan yang berada di perbukitan sehingga terlihat cukup jelas dan indah laut yang ada di bawah. Tidak ada yang menarik selain itu kecuali anda suka sapi atau kambing yang berkeliaran di jalan raya. Asyik juga perjalanannya, pemandangannya keren cuy. Nah, sampailah kita di Watatu.

Sampai di sini suasana masih sangat manusiawi. Selayaknya pusat kecamatan semua ada di sini kecuali supermarket seperti indomaret atau alfamaret yang masih belum ada di sepanjang jalan raya. Namun banyak sekali toko2 besar yang buka di pinggir2 jalan. Pasar pun tentu ada dan cukup lengkap dengan harga yang masih masuk akal. Penginapan2 pun juga tersedia disini dengan budget antara 100 ribu higga 500 ribu. Counter2 hape yang menjual pulsa pun marak di sana. sinyal hape masih sangat baik dan cukup untuk sekedar video call. Pom bensin hanya ada satu dan tidak berlabel pasti pas. Kondisi pompa dan bangunan nya pun masih teramat jadul. Ini mungkin SPBU lama yang masih beroperasi hingga kini. Selain itu masih sangat layak untuk ditinggali dan tidak ada masalah berarti.


Dari tugu kecil di pertigaan watatu kami pun masuk untuk bisa sampai ke Ongulara. Karena musim hujan, gerimis pun datang tak diundang. Perjalalan tetap berlanjut karena driver kami takut kemalaman. Jalalan khas pedesaan sudah mulai terasa setelah 1 km kami lepas dari jalanan aspal. Belok kanan kiri lurus dan seterusnya sampai driver kami pun lupa arah jalan. Setelah tanya ke warga sekitar (hingga 3 kali), perjalanan pun berlanjut. Setelah hampir 1 jam perjalanan dari watatu, saya lihat kanan kiri, terkaget juga karena agak jarang ada penampakan rumah panggung. Satu hal yang menurut saya menarik karena terkesan kolosal nan klasik. Wah ada rumah panggung nih, sepertinya ini rumah khas orang sana ya.



Tanampulu. Kami melewati suatu desa setelah lepas dari Kawasan watatu tadi. Desa yang cukup hidup dengan masjid yang cukup besar. Konon katanya desa ini adalah tujuan para trasnmigran. Makanya banyak sekali suku yang tinggal di sini. Desa ini pun masih cukup layak untuk ditinggali meski ada beberapa hal yang scary seperti kondisi jalanan. Saya akan kupas tersendiri desa ini di lain artikel.



Jalanan pun sudah mulai tidak karuan alias jalan sudah banyak yang rusak. Parah dan semakin parah seiring perjalanan semakin masuk ke pelosok. Bahkan setelah perjalanan sudah lebih dari 1 jam, jalanan rusaknya sudah tidak bisa ditolerir. Tanpa batu batuan sebagai layaknya jalanan pedesaan, namun benar benar lumpur yang ada di tengah jalan. Tercengangnya lagi, jembatan dibangun bukan dari semen melainkan dari balok balok kayu yang ditata. Dan herannya, mobil ternyata bisa lolos lewat di jembatan itu. Omigot, perjalanan macam apa inih.




Tercengangnya bukan sampai situ saja. Wtf nya lagi ternyata ada sungai yang melintasi jalan (meski tidak besar dan tidak dalam). Yup, air itu mengalir bebitu saja tanpa adanya jembatan yang menyertai. Walhasil, kendaraan mau tidak mau harus trabas itu sungai atau silahkan kendaraan ditinggal lalu penumpang jalan kaki untuk melanjutkan perjalanan. Karena tidak dalam kondisi banjir, maka kendaraan bisa melintasi sungai itu meski saya merasa jiper juga. Itu pun setelah ada beberapa motor yang menyeberangi sungai tersebut. Sudah puas jipernya? Bukan hanya sekali kawan, kita menyeberang sungai di tengah jalan, tapi 2 (dua) kali. Dan sungai yang kedua lebih besar dari sungai yang pertama. Untuk menaklukkan sungai yang kedua  butuh keahlian berkendara tingkat dewa agar motor tidak mogok minum air sungai. Setelah lolos, beberapa ratus meter kemudian, kami disambut oleh Sungai Surumana. 





Nah, ini sungai ketiga yang harus diseberangi. Jangan coba2 melewatinya dengan kendaraan bermotor ya kawan. Ini sungai jumbo soalnya. Dan, lihatlah di seberang sungai! Itu adalah Desa Ongulara dengan warganya yang seakan akan menyambut dengan riang gembira. Nyeberangnya pegimane? Ya pake rakit dong. Then, mari kita naik rakit untuk yang pertama kali… Dengan rakit bambu yang cukup lebar, kami, motor, dan barang bawaan kami pun berhasil menyeberang ke Desa Ongulara. Dulu, disini sebenarnya ada jembatan model gantung sebagai media penyeberangan, namun rusak akibat keganasan Sungai Ongulara. Selesai naik rakit, kamipun diarak menuju rumah kepala dusun dalam suasana rintik gerimis. Yes… truly ethnic runaway. Apa? Mayoritas disini rumah nya panggung? Ngepain saya tadi poto2 rumah panggung di perjalanan kalo yang di sini lebih etnik?  Mampus dah, mari kita mulai petualangannya…

Regards

waw

Sequel of #ongulara
https://wawwiwiwaw.blogspot.com/2018/07/mari-mulai-berpetualang-di-celebes.html
















Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

whats in your mind?