visit on my page

Showing posts with label Huni. Show all posts
Showing posts with label Huni. Show all posts

Wednesday, May 8, 2019

Menilik Keindahan Bridge Fountain Semarang


Salah satu tempat yang bisa membuat hati menjadi gembira setelah sumuk dengan rutinitas sehari-hari. Tempat nongkrong gratis sekaligus bisa untuk cuci mata. Dan suatu tempat yang menjadi kebanggaan kota Semarang. Bridge Fountain. Yup, sesuai dengan namanya ini adalah “air mancur yang berada di Jembatan. Tepatnya di jembatan Sungai Banjir kanal barat di samping Taman Medoho Semarang Barat. Merupakan suatu tempat yang “dibangun” oleh pemerintah kota semarang agar Kota Atlas semakin Hebat. Suatu hal yang dibuat untuk menjadi tempat hangout untuk masyarakat.


Meski banyak pula daerah lain yang mempunyai tempat semacam ini namun di Kota Semarang ini kemasannya lain. Jika di daerah lain menunya adalah air mancur yang sebenarnya diatas kolam taman, kalau di Kota Semarang ini air macur nya di atas sungai dan dibadan jembatan. Air mancur itu berjajar sepanjang jembatan dan menari-nari mengikuti alunan musik. Lampu warna-warni pun tak ketinggalan menghiasi setiap titik air mancur membuat pemandangan menjadi semakin indah. Kita bisa menikmati keindahan sepenuhnya dengan sambil duduk-duduk di taman samping bawah jembatan, atau bahkan sambil melintas di atas jembatan.


Namun begitu sayangnya Bridge Fountain ini tidak selalu beroperasi setiap malam. Air mancur jembatan ini hanya beroperasi di setiap hari sabtu malam. Dan cukup disayangkan lagi, hanya dijalankan sekitar 2 jam saja, dari jam 8 malam hingga jam 10 malam. Saat kami sekeluarga menyempatkan diri untuk nongkrong di sana ternyata antusias warga lumayan besar. Kita bisa memparkirkan kendaraan di sekitar jembatan. Banyak sekali tukang parkir (yang sepertinya tidak legal) yang menawarkan tempat parkir untuk kendaraan kita. cukup mahal untuk tarif parkir biasa, tarif parkir tempat wisata yang diberlakukan, motor 2 ribu dan mobil 5 ribu.


Saya yakin banyak sekali orang semarang yang belum sempat menonton pertunjukan air mancur jembatan di semarang barat. Namun begitu, tempat ini sebenarnya cukup saya rekomendasikan untuk ditongkrongi. Banyak sekali tempat duduk di sisi Sungai Banjir kanal Barat untuk diduduki sambil menikmati keindahan air mancur. Tidak perlu bayar tiket hanya perlu bayar parkir kalau kita bawa kendaraan, dan lelah pun terurai sudah. Semoga berguna..

Regards,

waw












Monday, April 15, 2019

Kampung Sawah di Kota Semarang


Seperti yang telah saya singgung sebelumnya di artikel kampung batik Semarang, Kota atlas sedang mempercantik dengan membuat kamupung-kampung tematik. Dan, setiap ada yang unik, maka kami pasti kepincut untuk menjenguknya. Ada salah satu kampung yang cukup terjangkau dan unik menurut kami. letaknya ada di kecamatan Mijen kota Semarang. Namanya adalah Kampung Sawah. Karena memang dasarnya kami suka wisata alam, maka sesuai dengan judulnya pasti wajib untuk kita kunjingi. Seperti apa keunikannya?


Kampung tematik ini belum lama jadi sejak artikel ini saya buat. Tempatnya memang berada di erea persawahan. Launchingnya pun cukup menyita banyak mata. Ibu negara yang datang ikut meresmikannya dilengkapi dengan acara tangkap bebek membuat peluncurannya cukup spektakuler. Berselang beberapa hari dari launcing kami pun berkesempatan untuk menjunjungi Kampung tersebut. 


Untuk lokasi anda bisa mengandalkan map google. Lebih tepat tampatnya terletak di belakang sebuah rumah makan pemancingan. Di sana juga ada kolam renang yang dibuka saat hari libur. Di samping rumah makan tersebut terdapat jalan setapak selebar satu depa lebih untu masuk ke kawasan Kampung sawah. Kami diwajibkan membayar tiket 3 ribu rupiah setiap orang nya untuk masuk ke sana. setalah tiket di tangan, kami pun masuk ke area wisata. Tidak ada yang istimewa saat kami masuk. Hanya jalan setapan bermaterialkan semen selebar satu depa tadi. Sekitar 50 meter dari loket (loket dadakan), kami menjumpai sungai kecil sebelah kanan yang kesannya  (entah dikesankan atau bagaimana) clasic. Namun, sebagai orang desa, sungai kecil seperti itu kerap kali saya jumpai di kampung saya. Lalu, beberapa langkah kemudian kami menemukan seperti jembatan buatan dari bambu yang dibuat diatas sawah menyisir sepanjang sekitar 100 meter hingga sampai suatu spot yang terbuat dari bambu pula, spot tersebut dibuat sedemikian rupa sehingga menarik untuk foto-foto. Dan, menurut kami hanya di spot ini lah kami cukup mendapat impresi. Ya, meski lagi2 tidak spektakuler, setidaknya masih pantas untuk background foto. 



Justru banyak hal negatif yang saya dapat di kawasan wisata desa dengan budget hampir 200 juta itu. Selain konsep yang tidak matang, materail pendukung wisata seperti bambu-bambunya seperti kurang kokoh dan mudah rapuh. Sampah pun bertebaran yang pasti sangat menggangu pemandangan. Bukan hanya mata yang terusik, hidung kami pun mencium bau yang tidak membuat nyaman sama sekali. Pantas saja, hanya berjarak beberapa jengkal saja dari spot andalan Kampung Sawah terdapat sapi dengan kotoran berserakan dan baunya sangat menyengat.





Overall impresi saya di tempat ini kurang baik. Apalagi dengan dibanderol tiket masuk seharusnya akan lebih baik dari ini. Namun begitu, sebenarnya perlu diberi apresiasi dan dukungan untuk membuat kampung2 tematik seperti ini. Jelas, ini akan memberi warna bagi kota Semarang dan menungkatkan aset pemerintah. Semoga berguna...

Regards,

waw














Friday, February 22, 2019

Folkafe Tembalang, coffee shop yang harus anda coba


Sudah lama tidak ngopi-ngopi ganteng semanjak kidos sudah bisa mengganggu pacaran. Dulu semasa belum ada anak-anak hingga mereka belum bisa usil, betapa keranjingannya kami nongkrong di warung kopi. Mungkin semua coffee shop sudah kami jajal waktu itu. Namun kini, betapa kagetnya ternyata main kami kurang jauh. Sudah buanyak sekali coffee shop hingga bingung kami mau pilih yang mana untuk ngopi. But ok, kita coba salah satu saja ya. Kuat dilakoni nek ra kuat ditinggal ngopi.


Folkafe. Nemu di instagram (istri pastinya). Letaknya di jalan setia budi dekat ngesrep dari kawasan undip patung kuda belok kanan ketemu plaza hotel, maju dikit pasti ketemu. Tempat parkir kendaraan cukup proper dan tentunya tempat parkir bokong pun demikian. Interior nya biasa namun bikin betah. Ya, ciri khas coffee shop milenial lah ya. Setiap sudut nya tertata dan terdesain dengan baik. Buat nongkrong lama-lama oke lah. mau yang indoor atau outdoor ada.


Setelah sekian lama tidak ngopi, lidah ini berkata enak untuk capucino yang saya pesan. Tanpa gula pun sudah nyaman sekali dari ujung lidah hingga ujung perut. Afogato punya istri pun tidak kalah mantab. Penyajian espresso dengan gelas ukur cukup antimainstream. Tapi yang paling penting adalah rasanya ya. Enak. Barista-barista nya pun bagus pelayanannya. Dimintain tolong buat foto juga masih tersenyum manis. Hehe



Apalagi yang perlu disampaikan.  Oiya harga. Harganya masih tidak jauh dari kebanyakan coffee shop sih. Tidak lebih murah atau sebaliknya. Tapi dengan hanya 1 lembar biru saja kami sudah bisa menikmati pesanan masing masing. Masih cukup ramah kantong lah. peralatan yang dipake juga sudah profesional. Pasti masalah kualitas jangan diragukan lagi. Cafe ini buka jam 7 pagi hingga tengah malam. Durasi yang cukup lama jika anda mendadak sakau akan kopi.


Jika anda belum mencoba ngopi disini, atau sedang bingung pilih pilih tempat ngopi, folkafe bisa saya rekomendasikan. Tidak akan menyesal kok. Tempat asyik, kopi enak, pelayanan oke. Semoga berguna...

Regards

waw












Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

whats in your mind?