visit on my page

Monday, June 8, 2015

REVIEW PEMAKAIAN ASUS ZENFONE 4

Tampilan belakang zenfone 4 setelah dipasang hardcase additional
Sudah 5 bulan kiranya saya mengenal android, sejak dipaksa move on dari blackberry yang pensiun dini semenjak menemani saya nyemplung ke pantai alias berendam air laut. Blackberry vs android memang paltform yang bertolak belakang meski basic keduanya adalah sama-sama smartphone. Blackberry identik dengan tombol qwerty nya sedang android dengan layar sentuh. Itu dari segi luaran. Kalo dari sisi daleman blackberry terkesan lebih pelit spek dibanding rivalnya. Gadget kalangan atas pada jamannya tersebut juga menawarkan OS yang lebih terbatasi. Itulah yang membuat saya move on selain tentunya icip-icip barang baru (yang ini sebenernya alasan utamanya.. hehe). 
Asus zenfone 4 menjadi most wonted saat kelahirannya. Gebrakannya pada smartphone segmen bawah memang membahana. Spek yang menggiurkan (pada waktu itu) menjadi alasan penggila gadget untuk memburunya. Bahkan tidak ada patokan harga yang bisa dianut kala itu. Yang jelas harga melambung tinggi dari harga officialnya. Entah ini permainan market atau memang fenomena yang biasa saja di dunia gadget. Itu juga menjadi alasan saya memboyong handheld tersebut.

Namun fenomena tersebut luntur setelah stok barang sudah mencukupi pasar. Harga pun sudah menjadi realistis kembali. Saya pun mendapat harga tebus yang lumayan asoy kala memesannya dari toko online terbesar lazada. nah, itu (harga) juga menjadi alasan paling utama saya membeli smartphone tersebut. wkwkwk

Baik sekarang saatnya mengupas riding feeling dari zenfone 4. 
 


Desain

Ini yg menjadi kebanyakan orang menilai. Dari sisi ini saya memberi penilaian yang cukup bagus. Tidak terlalu polos (baca biasa) dan juga tidak terlalu mewah. Cukup bagus lah untuk ponsel pintar entry level. Material cukup kokoh meski kesan plastiknya masih cukup kental. Saya juga merasa dimensinya agak sedikit panjang. Yup, abaikan tentang panjang dan lihat bezel bawah yang memang menambah ke-kece-an dari desan zenfone 4 ini. Tombol power dan volume fine-fine saja tidak ada masalah. Justru warna cromenya menambah lagi ke-kece-an. Penempatan headphone jack dan micro usb juga oke-oke saja. Tampilan layar 4 inch nya juga cukup jernih meski kurang nampol karena minim fitur IPS dan belum beresolusi HD. Cukup dan bukan menjadi masalah besar bagi saya.

Zenfone 4 1600mah terlihat sangat tebal
Back case yang doff membuat saya cukup nikmat saat memegang tanpa takut terpelesat, namun jika narohnya kurang hati-hati pasti akan membekas seperti tergerus apalagi jika warnanya tidak hitam (ini terjadi pada kepunyan teman saya). Untuk seri batre 1600mah kesan tebal sangat terlihat, apalagi jika ditambah hardcase additional, wew tuebel cuy... Dan, perlu jemari yang terampil untuk membuka casing belakang zenfone 4 ini. Pasalnya beberapa kali saya sukses meringis karena gagal membuka, hanya coakan halus yang saya dapat akibat kuku-kuku mulus saya.

Gorilla glass 3 tidak menjamin bebas gores dan pecah. Buktinya layar zenfone 4 punya saya sendiri. Saat jatuh dari ketinggian sekitar 0,5 meter langsung membekas meski masih sangat samar. Goresan berat pasti saya dapatkan jika layar tersebut tidak dilindungi gorilla glass 3. Namun akhirnya gorilla glass zenfone 4 tersebut mendapat goresan yang berat saat (mungkin diinjak anak saya). Sangat jelas goresannya. Bahkan saya tidak percaya hal tersebut terjadi jika melihat pembuktian ketangguhan gorilla glass 3 di youtube. Well, jangan lupa pasang screen protector walau sudah ada perlindungan additional pada layar smartphone anda. 

Berkat resolusi 5MP dan autofokusnya, hasil kamera juga cukup jernih meski tanpa adanya LED flash sebagai pendukung. Warna dan kontras cukup bagus meski agak terlihat buram saat dizoom. Jika pencahayaan cukup maka hasil jepretan akan lumayan tajam. Namun jika pencahayaan kurang, noise yang muncul cukup banyak. Kamera depan cukup lah untuk ber video call ria. Namun untuk selfie jelas kamera VGA amat sangat kurang bisa diandalkan. Fitur-fitur kamera juga sangat lengkap untuk melengkapi pengalaman photografi anda. Hasil jepretan tidak perlu saya upload. banyak sekali yang memajang hasil jepretan HH ini di banyak homepage mereka. Lagian saya tidak jago jepret ntar malah amburadul hasilnya. Video recordernya juga cukup memukau. untuk sekedar mengabadikan momen tak terduga sih sudah sangat mampu.
  

Interface

Zen UI andalan asus zenfone cukup membuat saya terlena (meski belum membandingkan dengan interface lain). Pergerakan yang smooth, tampilan yang friendly, short cut yang mempermudah aplikasi, dan lain-lain memang bisa diandalkan. Widget yang tersedia juga cukup banyak, meski cuma saya gunakan segelintir saja. Namun saya kok agak merasa bosan setelah 5 bulan memakainya ya? Apakah ini interface nya yang kurang variatif atau mamang saya yang orangnya bosenan? Orang-orang bilang sih opsi ke 2.
Tampilan interface dari OS kitkat by Zen UI zenfone 4


OS

Jelly bean tidak pernak saya cicipi. Saya langsung upgrade ke kitkat meski pakai kuota saking exitednya. Yah, over all oke lah. Multitasking mantab, pergerakan layar smooth, dan multitouch pun lumayan ajib. Game menengah bawah juga bisa dilahab dengan sukses. Saya tidak sempat menjajal game yang besar karena saya bukan maniak game. Saya lebih menikmati game berat di konsol PS atau di PC. Dan karena handheld ini masuk ke segmen bawah maka kurang lazim pula jika saya paksa untuk bekerja di level atas. Asyiknya, kita bisa memindah app yang sudah kita pasang di memory internal ke micro SD. 

Ngelag atau error hampir tidak saya temukan. Leg/Bug kadang muncul sesekali saja ketika mentengin jejaring sosial atau browsing berjam-jam. Kadang zen UI launcher tidak responsif lagi dan perlu optimize RAM untuk merefresh keadaan itu. Bahkan, sesekali hang dan harus dishutdown dahulu agak bisa berjalan kembali seperti sedia kala. Tapi ini hanya terjadi saat kita intens banget multitaskingnya. Meskipun tidak sering, saya juga menemukan beberapa kali app forced close sendiri, entah itu issued dari OS atau app yang minta upgrade, soalnya setelah saya upgrade, force closed tidak muncul lagi di beberapa app. Kabar baiknya, asus menjanjikan bakal memberi upgrade asus zenfone 4,5, dan 6 ke lollipop. Wah bakalan asoy dah kalo begini. Oiya satu lagi. Untuk saya yang pengguna menegah, app yang terpasang juga gak banyak, sisa di RAM rata-rata 200MB. Optimize bisa 400MB dan penggunaan insentif bisa mencapai <100MB.


Batre

Nah ini nih isu terbesar dari asus zenfone khususnya seri 4. Batre boros. Jangan ditanya jika seri 1200mah. Sudah pasti kapasitas segitu habis dalam sekejap. Lebih tepatnya bukan boros, namun kapasitas yang relatif kecil untuk menanggung beban jauh lebih besar. Setelah batre diupgrade menjadi 1600mah masalah tersebut lumayan teratasi meski dirasa masih kurang. Saya sendiri masih merasa kapasitas segitu masih kurang untuk kebutuhan energi smartphone yang setidaknya harus standby dari pagi hingga sore hari. Dengan kapasitas batre segitu saya biasa charge kembali jam 12 siang dengan kondisi batre penuh jam 7 pagi dengan intensitas pemakaian sedang menuju lumayan. Namun jika hanya standby menunggu notifikasi masuk dan membalasnya saja, ketahanan batre bisa nyampai jam 3an sore. Yang jelas jika anda orang yang aktif bersmartphone ria, pastikan powerbank selalu menemani zeny 4 ini. 

Namun kekurangan itu telah disempurnakan legi oleh zenfone C yang mengusung kapasitas batre 2000an mah. Pasti kuat seharian.
Selain isu batre boros, handheld panas juga menjadi isu miring seri terendah pertama zenfone ini. Lagi-lagi relatif. Panas, hangat, atau suam-suam kuku harus diukur berdasar level suhu. Kalo Cuma diraba dan bilang panas itu sebenarnya belum menjadi patokan. Namun menurut saya zenfone ini lebih cepat naik suhu badannya saat digunakan kontinyu tanpa jeda. Ini relatif jika dibanding dengan handheld lain. Dan ini mungkin ada pengaruhnya dengan batre yang cepat habis. Atau sinyal provider juga punya andil? Atau benar procie intel punya karakter lebih cepat panas? Atau saya saja yang bedjo dapat produk blenyon alias gagal produk.


Kesimpulan 
Tapi dibalik kelebihan dan kekurangannya, asus zenfone 4 ini termasuk smartphone yang handal di kelasnya. Terbukti dari predikat most wanted yang pernah dia sandang. Brand yang wellknown, kualitas yang oke, fitur yang melebihi harga, dan beberapa keunggulan lainnya menjadi nilai lebih yang tak terbantahkan. Selama memakai saya puas dan akan merekomendasikan kepada orang lain jika ada yang butuh smartphone dengan kisaran harga diatas. Tentu dengan menjelaskan kelebihan dan kekurangannya.

Untuk newbi di kancah smartphone android, hendheld ini direkomendasikan. Bagi anda yang menginginkan performa oke  smartphone dengan harga yang terjangkau, zenfone 4 solusinya. Namun bagi anda yang malas membawa charger atau nenteng powerbank dan mengidamkan smartphone yang adem, silahkan berpaling ke handheld lain.

Maaf jika ilustrasi fotonya minim. saya rasa deskripsi kata-kata akan lebih bermakna... hehe.. Jika ada hal yang perlu didiskusikan, mari berbagi di kolom komentar. Terima kasih.. semoga berguna

Regards,

waw

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

whats in your mind?