visit on my page

Tuesday, June 19, 2012

Pengalaman mengecewakan periksa di poli gigi Puskesmas dan RSUD

Unwell... mohon maaf jika Kata yang biasa dipakai untuk membuka sebuah artikel saya tambah dua huruf untuk membalik arti. Namun memang itulah yang paling cocok mewakili perasaan saya. I am going to bad mood setelah datang ke 2 tempat palayanan kesehatan di kota Bandar Lampung. Maksud hati ingin menaggalkan dengan paksa salah satu gigi molar 3 saya ke poli gigi namun yang saya dapat hanya sebuntal kekecewawan. Pertama adalah saat masuk ke Puskesmas di kecamatan Pahoman Bandar Lampung yang terkenal dengan nama Puskesmas Satelit. Kemudian yang kedua adalah setelah datang ke Rumah sakit pemerintah terbesar seprovinsi lampung RSUD Abdul Muluk.

Jok Panas di poli gigi
Setelah 2 minggu yang lalu memeriksakan gigi yang membuat badan hingga meriang ke salah satu klinik di daerah Teluk Betung, saya berencana untuk mencabutnya ke puskesmas. Berharap untuk tidak mengeluarkan biaya yang selangit, karena di dokter Neti yang buka klinik di daerah Teluk tadi membuka tarif yang lumayan tinggi yakni 200ribu rupiah. Setelah googling dan tanya kolega, saya memutuskan untuk mencabut gigi di puskesmas dengan pertimbangan biaya yang sangat murah dibanding klinik dokter gigi. Tarif dibawah 50ribu rupiah sangat sukses membuat saya untuk memutuskan ke Puskesmas Satelit di Pahoman.

Puskesmas Stelit di dekat stadion pahoman Bandar Lampung
Setelah bangun pagi, sms atasan di kantor untuk minta ijin, saya bersiap jiwa dan raga untuk mencabut gigi di puskesmas yang katanya paling bagus pelayanannya itu. Sarapan yang banyak ntuk persiapan puasa setelah tanggalnya gigi, dan langsung memarkirkan kendaraan di depan puskesmas. Wew rame juga puskesmas ini. Antrilah saya di loket. Ups... kok semua calon pasian yang mendaftar membawa selembar fotokopian kecil. dan setelah saya amati kertas tersebut adalah fotokopi jamkesmas/jamkesda. Sontak terpikir, apakah secarik kertas tersebut merupakan syarat mutlak pendaftaran pasien? Tanyalah saya ke petugas loket untuk membuang rasa penasaran.

"Bu, saya mau daftar ke poli gigi!" tanya saya.
"Mana kartu jamkesnya dek?" tanya ibu itu balik.
"Wah saya belum punya bu.." jawab saya was-was.
"Waduh tidak bisa dek..." kata ibunya
"Kalau mau daftar tanpa jamkes gimana bu?" tanya saya tanpa menyerah
"Tetep gabisa dek, semua disini pake kartu jamkes..." Jawab ibunya yang sudah agak gerah
"Lha terus saya mau periksa bagaimana dong bu?" Tanya saya penuh harap
"Kamu buat kartu dulu baru daftar disini!" jawab ibu itu sudah agak emosi
WTF... batin saya sambil meninggalkan loket tanpa pamit.

Tak terima dengan "pelayanan" puskesmas yang seperti itu, saya mencoba mencari petugas puskesmas yang lain dengan ditemani my huni yang memang telah meluangkan waktu untuk memberi dukungan moral kepada saya. Pikir kita waktu itu "mau periksa kesehatan di puskesmas kok susah amat yak?" tidak ada kebijaksanaan at all. Setelah ketemu petugas puskesmas, kamipun langsung menanyakan perihal pendaftaran dengan kartu jamkes tadi. Si ibu itu pun mengiyakan kalo memang pendaftaran di seluruh puskesmas di Bandar lampung harus pake kartu jamkes semua tidak tebang pilih itu laki, perempuan, anak, dewasa, miskin ataupun kaya. Yasudahlaaaaaaaaagh... capcus aja langsung dengan segenggam kekecewaan yang luar biasa. Lalu kamipun terfikir untuk mencoba pergi ke Rumah sakit umum daerah. Yakni Abdul Muluk di derah kedaton.

RSUD Abdul Muluk
Hufh... cukup memberikan sedikit kelegaan setelah sampai di RSUD Abdul Muluk. Pasalnya, disana melayani pendaftaran pasien tanpa kartu jamkes. Setelah membayar uang pendaftaran sebesar 5ribu rupiah, sayapun langsung ke poli gigi yang ada di lantai 2. Weits, berkas pendaftaran diatuh di meja admin langsung dipanggil tanpa antri. Dokter mempersilahkan saya duduk di jok panas tempat periksa gigi. Setelah menanyakan keluhan saya dengan muka datar, saya pun berujar kepada dokter bahwa hajat saya kesitu mau cabut gigi. Ketuk2 sedikit pada si molar 1 kemudian dokter bertanya "sakit ga?"Sayapun berkata tidak, karena memang begitulah adanya. Kemudian colok2 sedikit, bu dokter itupun menanyakan hal yang sama. saya pun memjawab ada sedikit ngilu tapi tidak sakit. Dan dokter itu berkata kalo mau dicopot harus tidak ada rasa sakit sama sekali pada giginya lagi2 dengan muka yang datar. Tapi ini sudah tidak sakit dok! kata saya. "Lha kalo mau dicopot sekarang ya terserah, tapi saya tidak bertanggung jawab kalo tidak berhasil nanti" kata dokter dengan wajah yang tambah lebih datar dari sebelumnya. Yasudahlaaaaaaaaaaagh... Pikir saya. Kalo pun dicopot sekarang sepertinya saya juga kurang berselera dengan bu dokter itu. Musyawarah kecil dengan my huni sebentar, lalu diputuskanlah untuk minta surat ijin sakit dan berencana untuk ke Dokter Nety di Teluk yang pertama kali memeriksa gigi saya. Toh beliau lebih santun daripada  bu dokter RSUD tadi. Oiya di RSUD tadi pun sempet dipungut biaya 15 ribu untuk biaya konsultasi dokter. Sempet tanya juga biaya untuk cabut gigi di RSUD, dan dokter membanderol harga yang tidak jauh dari klinik paktek di dokter gigi yakni 150an ribu rupiah.


Oke... Saya mungkin mendapat pelajaran dari pengalaman saya diatas. Pertama, jangan sekalipun pergi ke puskesmas di daerah Bandar Lampung tanpa kartu jamkesmas/jamkesda. Kedua, Kalo mau periksa gigi atau cabut gigi, memnding ke klinik praktek aja daripada ke RS dengan tanpa kartu Jamkes. Toh biaya tidak jauh beda namun dengan pelayanan yang jauh lebih oke. Saat ini saya sedang menanti waktu sore menjelang malam untuk mengeksekusi si molar 1 di Dokter Nety. Doain ya... Oiya BTW my huni lagi ulang tahun juga hari ini. Selamat ulang tahun ya hun...
Semoga bergguna...
Advertisement
-->
Regards,

waw

Ilustrasi gambar : google

Link Terkait :
Akhirnya Geraham Molar 1 ku dicabut juga
Yang harus dilakukan setelah cabut gigi
RS Mata Permana Asri (satu-satunya di Bandar Lampung)

yuk berbagi pengalaman di kolom komentar...

13 comments:

  1. aaaakkkk... langsung ditulis niyee... makasiii sayang ucapannya... tunggu bentar lagi qt capcusss yaaaa sayang.. mwawa
    i <3 U baby....

    ReplyDelete
    Replies
    1. sharing aja hun

      buruan dah azan ni...

      Delete
    2. mas gmana cabut giginya dah berhasil ya?
      harus oprasi kecil gak & kena biaya berapa ?

      Delete
  2. mas gmana cabut giginya dah berhasil ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sudah berhasil cabut gigi dengan sukses...
      cekidot dimarih... hehe

      http://wawwiwiwaw.blogspot.com/2012/06/pencabutan-gigi-gerahamku.html

      Delete
  3. harus oprasi kecil gak & kena biaya berapa ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. ga pake operasi kok langsung dieksekusi... kan bukan geraham paling ujung melainkan geraham tengah...
      kena biaya 200an rebu klinik prakter dokter gigi...
      yah... daripada merasakan linu tiap gigi tersebut kumat, mending cabut aje...

      Delete
  4. waduh saya belum pernah cabut gigi, rasanya malas benar mau cabut gigi, walaupun sudah beberapa kali sakit

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lebih baik buang rasa males agan

      Dengan meluangkan waktu sedikit ke dokter gigi untuk cabut gigi, dan merelakan beberapa rupiah dari dompet, rasa sakit tidak akan menyatroni gigi Anda kembali
      hehe

      Delete
  5. selamat siang braders, perkenalkan saya arlan dan bertugas di Puskesmas Kintamani, sebagai seorang eksekutor di poli gigi saya senang dapat mengetahui beberapa pengalaman yang didapat setelah berobat di poliklinik gigi puskesmas.

    ada beberapa hal yang ingin saya komentari terkait postingan ini dan tulisan mas waw yang berjudul Pencabutan Gigi gerahamku.

    Pertama, mengenai statement mas waw tentang pelayanan pendaftaran diloket, sebenarnya kurang bijaksana jika langsung menyalahkan puskesmas terkait kesulitan dalam pendaftaran. Semua ketentuan dan prosedur pendaftaran sudah diatur oleh pemerintah daerah, puskesmas tinggal menjalankan saja. Percaya deh mas, puskesmas juga ribet ngurusin beginian, kalo bisa dilakukan sendiri tentu saja puskesmas ga ngadopsi sistem jamkesmas atau digeratiskan saja pendaftarannya biar gampang, kan ga perlu pake pengolahan data dan statistik ribet buat laporan kepusat segala.

    Kedua, mengenai pencabutan gigi yang masih infeksi. dipuskesmas manapun kita berobat jika masih terjadi infeksi(sakit/bengkak/bernanah dll) sangat jarang mau dilayani, bakteri menyerang jaringan lunak gigi dan dilawan oleh sistem imun kita, pada saat ini sangat jarang pembiusan biasa berhasil. Jikapun rasanya terbius(tebal) mas waw bakal kesakitan saat giginya dicabut, karena obat bius gagal bekerja pada bagian penyangga gigi. Diperlukan alat suntik khusus(citojecth) seperti yang dipakai membius mas waw di Drg.Netty, dan Puskesmas tidak memiliki alat tersebut karena pemerintah tidak mampu menganggarkan dana untuk alat dengan fungsi sama tapi harganya selangit.

    ohya, saya juga memiliki pengalaman sejenis, namun dilihat dari sudut pandang tenaga kerja kesehatan, mohon mampir diartikelnya jika sempat. Salam.
    http://www.arlan85.com/2013/05/kepoli-gigi-ga-cuman-buat-berobat-gigi.html

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasih pak dr arlan atas lawatan sekaligus pencerahannya...

      maaf bukan menyalahkan, namun hanya berbagi pengalan. kalaupun memang demikian, anggap saja ini sebagai kritik untuk menjadikan lembaga kesehatan kita menjadi lebih baik. masih banyak orang awam seperti saya tentang bagaimana sebenarnya lembaga kesehatan kita.

      Delete
    2. Bangus nih informasinya. Kebetulan lagi cari referensi biaya untuk cabut gigi
      Www.ihsandonesian.blogspot.com

      Delete
    3. tq bro udah sudi mampir2 and baca2

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

whats in your mind?